Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 16 Desember 2022

BAKTI SOSIAL RIAU MEDICAL CAMP 2 di DESA MUARA TAKUS DAN DESA BALUNG KEC. XIII KOTO KAMPAR, KAB. KAMPAR, PROV. RIAU

 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang berada di Indonesia berperan aktif dalam menjaga kesehatan Bangsa Indonesia. Kesehatan yang dimaksud adalah kesehatan jasmani dan juga rohani. Kesehatan menjadi hal yang sangat penting untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas dan produktif. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagian masyarakat Indonesia masih rendah, hal ini tampak dari kegiatan mandi, cuci, kakus (MCK) dipinggir sungai, dirumah tidak punya jamban sehat dan keterbatasan air bersih.

IDI bersama pemerintah bertanggung jawab memelihara kesehatan masyarakat. Di Provinsi Riau masih ada desa yang jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai dan masih adanya kasus Stunting serta daerah terpencil yang tidak tersedia air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ini Stunting menjadi Program Nasional (untuk angka Stunting 24,4%) dengan salah satu kegiatan ini kita untuk bersama-sama berusaha untuk menurunkan angka Stunting idealnya pada tahun 2024 angka Stunting kita harapkan bisa diturunkan ke angka target 14%. IDI Wilayah Riau telah mengadakan rangkaian acara kegiatan RIAU MEDICAL CAMP dan BAKTI SOSIAL IDI yang kegiatannya antara lain penyuluhan Stunting, edukasi makanan bergizi, pembuatan sumur bersih, pembuatan jamban, pemberian sembako untuk keluarga penderita Stunting, pemberian kursi roda untuk penderita disabilitas serta edukasi mitigasi bencana alam dalam rangka menambah ilmu pengetahuan untuk peserta yang terdiri dari tenaga medis dan tenaga kesehatan, konsultasi dan diagnosis oleh dokter spesialis, dan sunatan massal yang dihadiri 464 Peserta yang mana itu belum termasuk Panitia Lokal IDI Cabang Kampar.

Harapan Kami kedepannya agar berbagai rangkaian kegiatan Baksos ini dapat didukung oleh semua pihak, pemerintah, seluruh Ketua IDI Cabang se Riau serta seluruh Organisasi Profesi dibawah IDI. Kegiatan ini merupakan kegiatan Pengurus IDI Wilayah Riau dengan penyelenggaranya adalah IDI Cabang Kampar.

Riau Medical Camp 2







 Tema Medical Camp 2 dan Bakti Sosial    IDI Wilayah Riau 

Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka Hari Bakti Dokter Indonesia Tahun 2022 bertema "IDI REBORN, BERBAKTI UNTUK NEGERI, MENGABDI UNTUK RAKYAT"






Tujuan Medical Camp 2 dan Bakti Sosial IDI Wilayah Riau

Tujuan Kegiatan ini:

  1. Menjadi bukti dan wujud bakti serta partisipasi IDI dalam memelihara kesehatan Indonesia khususnya dalam pencegahan stunting di Desa Muara Takus dan Desa Balung Kabupaten Kampar.
  2. Meningkatkan pemahaman anggota IDI terkait mitigasi bencana alam dengan terciptanya kesepakatan mitigasi bencana Riau (Mitigasi Muara Takus).
  3. Sebagai ajang kebersamaan dan silaturahmi, yang akan mempererat kekeluargaan IDI.
  4. Sebagai wahana untuk membentuk kader-kader organisasi, yang mampu melaksanakan amanah dan kebutuhan organisasi.







WAKTU DAN TEMPAT MEDICAL CAMP 2 DAN BAKTI SOSIAL IDI WILAYAH RIAU 2022

Rangkaian kegiatan telah dilaksanakan pada 19–20 November 2022 di Desa Muara Takus  dan Desa Balung Kecamatan XIII Koto  Kabupaten Kampar.

  1. Wisata Gulamo (Tanggal 18 November 2022)

    Sejak dirintis tahun 2017 lalu, wisata alam Sungai Gulamo di Kabupaten Kampar, Riau, kini mulai kembali memikat wisatawan. Bagaimana tidak, pesonanya bak 'Green Canyon' bisa membikin kenangan pelancong untuk berniat kembali mengunjungi objek wisata alam memesona itu.
    Wisata alam yang berada di Desa Tanjung Alai, Kecamatan XIII Koto Kampar ini pernah meraih anugerah pariwisata nasional, dengan kategori tujuan wisata baru terpopuler 2019. Destinasi ini menyuguhkan panorama alam memukau. Ngarai bebatuan cadas menjulang kiri kanan, menjadi pemandangan eksotis dibelah aliran sungai. Suasana asri menggoda terbentang di aliran sungai yang mengalir dari Kabupaten 50 Sumatera Barat hingga ke Sungai Kampar Riau.
    Untuk menuju ke destinasi wisata ini, wisatawan mesti melalui titik kumpul di Jembatan 1 Desa Tanjung Alai. Dari kota Pekanbaru untuk menuju lokasi tersebut, perjalanan yang ditempuh 99 Kilometer atau sekitar 2,5 jam menggunakan motor atau mobil. Selama di perjalanan, wisatawan disuguhi panorama persawahan, bantaran Sungai Kampar, dan bukit-bukit yang mengelilingi Danau PLTA Koto Panjang.


    dr. Zulharman, M.Med,Ed Ketua Panitia

    dr. Abdullah Qayyum, MM Sekretaris IDI Wilayah Riau

    Suasana Senam Pagi


























    2. MALAM KESEJAWATAN

Malam Kesejawatan adalah malam keakraban bagi semua peserta saling mengenal, saling menyapa, saling berbagi cerita diantara sejawat dokter, memberikan informasi, edukasi dan juga analisa tentang keadaan yang sekarang terjadi dan kedepannya.


















    3. RANGKAIAN KEGIATAN BAKSOS

Ketua IDI Wilayah Riau Memberikan sambutan Di Pembukaan Baksos RMC 2. Di lanjutkan dengan pengobatan GRATIS, penyuluhan, pemberian kursi roda untuk disabilitas dan lain sebagainya.
Ikatan Dokter Indonesia lahir, tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang memiliki nilai-nilai profesionalisme, integritas etik dan moral, pengabdian, independen dan kesejawatan untuk melakukan upaya-upaya memajukan, menjaga dan meningkatkan harkat dan martabat Dokter Indonesia serta menjadi bagian dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sebagai tujuan dan cita-cita Ikatan Dokter Indonesia.

Kegiatan yang dilakukan pada Bakti Sosial IDI yaitu skrining dan pemeriksaan penyakit, konsultasi dan diagnosis dokter spesialis, pengobatan, penyuluhan pentingnya pencegahan stunting, pembuatan sumur air bersih dan wc serta pemberian  Sembako untuk keluarga penderita Stunting, Pemberian kursi Roda untuk Disabilitas.












Terima kasih Kepada semua peserta Baksos RMC 2 :
                  1. IDI Wilayah Riau
                  2. IDI Rokan Hilir
                  3. IDI Rokan Hulu
                  4. IDI Bengkalis
                  5. IDI Indragiri Hilir
                  6. IDI Indragiri Hulu
                  7. IDI Pelalawan
                  8. IDI Kuantan Singingi
                  9. IDI Meranti
                  10. IDI Siak
                  11. IDI Kampar
                  12. IDI Pekanbaru
                  13. Perhimpunan se Provinsi Riau
                  14. Rumah Sakit Se Provinsi Riau
                  15. Donatur yang ikut berpartisipasi dalam mensukseskan Riau Medical Camp 2

Selasa, 08 November 2022

Dr H Misri Hasanto M.Kes selaku ANB HEALTH CONSULTAN : PERLU PERBAIKAN SKN, BUKAN RUU KESEHATAN OMNIBUS LAW

Dr H Misri Hasanto M.Kes selaku ANB HEALTH CONSULTAN : PERLU PERBAIKAN SKN, BUKAN RUU KESEHATAN OMNIBUS LAW

Dr H Misri Hasanto M.Kes selaku ANB Health Consultan menanggapi Kajian RUU Kesehatan Omnibus Law yang diselenggarakan oleh 5 Organisasi Profesi ( OP ) Kesehatan di Kampus Unilak, Minggu 6 November 2022, masing masing Organisasi Profesi (OP) Kesehatan yang hadir terdiri dari : IDI (Ikatan Dokter Indonesia),  IBI (Ikatan Bidan Indonesia), PPNI (Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia), PDGI (Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia) & IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Diskusi Publik ini sangat menarik dan Fundamental, sehingga diminta para Pemangku Kepentingan ( Steakholder ) terutama pihak inisiator RUU Kesehatan Omnibus Law harus berfikir secara rasional dan objektif dalam merancang suatu produk UU, lebih khusus lagi Pihak DPR RI sebagai lembaga Perwakilan Rakyat yang harus bisa menimbang azas manfaat dan mudarat yang ditimbulkan oleh Produk Politik (UU) dan harus memperhatikan masukan dari masyarakat terutama Organisasi Profesi (OP) Kesehatan.


Menurut pengamatan saya di Pemeritah Daerah, tidak ada masalah antara Pemda dengan OP Kesehatan, justru Mereka bersinergi untuk mewujudkan Derajad Kesehatan Masyarakat yang optimal di Daerah masing masing. Sebagai contoh di Daerah Kepulauan Meranti banyak inovasi Kesehatan yang muncul dari sinergisitas antara Pemda dengan OP Kesehatan, diantaranya adanya MOU Dinkes dengan IDI Cabang Meranti, MOU Dinkes dengan IBI Cabang Meranti, MOU Dinkes dengan PPNI, dan MOU Dinkes dengan IAI. Prestasi yang pernah dicapai diantaranya : Kabupaten Kepulauan Meranti Juara Umum berturut turut tahun 2020 & 2021 di Provinsi Riau dan dalam Aksi Konvergensi Pencegahan dan Penanganan Stunting adalah bentuk dukungan OP Kesehatan, Kabupaten Kepulauan Meranti Juara III Nasional Kader Kesehatan Remaja juga bentuk sinergisitas Pemda, Masyarakat dan OP Kesehatan, serta Puskesmas Teluk Belitung Juara I Nasional sebagai Pelayanan Puskesmas terbaik I kategori Daerah terpencil adalah juga bentuk kerja sama yang baik antara Pemda dengan OP Kesehatan. Ini semua adalah berkat kerja sama di lapangan (Daerah) antara Pemda, OP Kesehatan, dan Masyarakat, artinya selama ini tidak ada masalah Pemda dengan OP Kesehatan. Justru OP Kesehatan sangat diperlukan dalam Pembinaan anggotanya masing masing, seperti :  Pembinaan Etika, Pembinaan Medikolegal, dan Pembinaan Profesi ( Pendidikan berkelanjutan ).


Yang diperlukan adalah Perbaikan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), diantaranya penyempurnaan Sistem dan Kurikulum Pendidikan Kesehatan, Perbaikan Pembiayaan Kesehatan, Perbaikan Fasyankes dan Harmonisasi diantara subsistem yang ada, ujar dr H Misri Hasanto M.Kes Kadiskes Kepulauan Meranti tahun 2020 dan 2021 tersebut.


Di era JKN menurut saya ada masalah tentang Politik anggaran di semua level dimana setiap tahun BPJS Kesehatan selalu merugi dan tidak dicari apa akar masalahnya. Kita terpola dengan Rutinitas dan terkesan mencari cari kesalahan, kenapa ini bisa terjadi, menurut saya berapapun Pembiayaan dari Pemerintah untuk JKN tidak akan cukup kalau Program Kesehatan di Puskesmas tidak diperbaiki. Puskesmas adalah ujung tombak pelayanan kesehatan, dimana sasaran utamanya adalah orang sehat, bukan orang sakit. Puskesmas adalah Pusat Kesehatan masyarakat, bukan Pusat Kesakitan Masyarakat. Puskesmas yang benar justru sasaran utamanya adalah orang sehat, bukan orang sakit. Tugas utama Puskesmas adalah Promotif dan Preventif, bukan Kuratif (Pengobatan) dan Rehablitatif. Artinyanya Tugas Puskesmas berupaya melakukan Pencegahan Penyakit dengan Program yang ada, agar orang sehat tetap sehat. Puskesmas bukan Miniatur Rumah Sakit (RS), Fungsi Puskesmas dan RS sangatlah berbeda, tetapi yang terjadi di Era JKN justru Puskesmas Sangat sibuk mengobati (Kuratif) dari pada Pencegahan penyakit (Prefentif), inilah yang jadi masalah besar di era JKN ini. Kalau kita tarik benang merahnya adalah Politik Anggaran harusnya lebih besar untuk Pencegahan penyakit dari pada Pengobatan Penyakit. Kalau fungsi Puskesmas Optimal dalam Pencegahan Penyakit, justru angka kesakitan (Morbiditas) dan angka kematian (Mortalitas) akan berkurang, dan ini akan berdampak besar berkurangnya Anggaran untuk Pengobatan (Kuratif).


Menurut saya kalau kita mau fungsi Puskesmas lebih profesional dan fukos untuk promosi kesehatan dan Pencegahan Penyakit, maka fungsi Kuratif dan Rehablitatif Puskesmas harus dipisah, jangan digabung seperti saat ini. Karena fungsinya digabung inilah yang terjadi, seolah olah Puskesmas sebagai miniaturnya Rumah Sakit (RS) dan tidak fokus menjalankan Program Kesehatan Masyarakat.


Saran buat Organisasi Profesi (OP) Kesehatan di semua level, sebaiknya adakan Audiensi dengan DPRD Kab/Kota, DPRD Provinsi, dan DPR RI sesuai dengan level OP nya.


Kesehatan adalah Hak Azazi Manusia sesuai dengan Amanat UUD 45 dan UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009. Sehingga banyak Dimensi yang terlibat untuk pembahasan sebuah Rancangan UU ( RUU Kesehatan Omnibus Law ) ini, termasuk juga Ormas LPPKI ( Lembaga Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat ), karena masyarakat sebagai Pasien (Konsumen) juga harus dilibatkan, pungkas dr Misri Hasanto M.Kes.

Jumat, 28 Oktober 2022

JAMBORE MEDICAL INDONESIA

 JAMBORE MEDICAL INDONESIA


dr.Jondri Akmal, M.A.R.S
Koordinator Bidang Media, Sosial Media, dan Dokumentasi IDI Wilayah Riau


Dalam upaya mewujudkan visi IDI yang visioner tersebut maka Sang Ketua Umum IDI Wilayah Riau, dr. Zul Asdi, Sp.B., M.Kes berpikir bagaimana membuat sebuah kegiatan yang mampu memadukan kebersamaan, kesejawatan sekaligus dapat meningkatkan kepedulian kepada masyarakat. Maka pengalamannya yang sangat panjang dalam berorganisasi selama ini menuntun dia untuk membuat kegiatan apa yang disebut medical camp.

Adalah pertengahan bulan Februari 2018 yang silam segenap anggota Ikatan Dokter Indonesia wilayah Riau yang berjumlah sekitar 700-an orang, di bawah komando dr.Zul Asdi bersempena mengadakan sebuah kegiatan yang diluar kebiasaan. Kegiatan Apa itu ? Mereka menyebutnya Riau Medical Camp (RMC).

RMC adalah sebuah kegiatan para dokter  di provinsi Riau melakukan kemping bersama di Bumi Perkemahan Tengku Buang Asmara, kabupaten Siak. Sebuah Bumi perkemahan (Buper) yang bertaraf internasional yang terletak di kabupaten Siak. Kenapa bertaraf Internasional? Karena semua sarana dan prasarana yang disediakan  berstandar internasional,  buktinya Bumi perkemahan ini sudah sering digunakan sebagai bumi perkemahan  pramuka baik dari anak pramuka  Indonesia maupun anak pramuka Malaysia.  

Kegiatan RMC ini memadukan kepedulian para dokter Riau kepada masyarakat Riau dan memupuk kebersamaan sesama teman sejawat. Memupuk kebersamaan sesama teman sejawat didedahkan dengan kemping pada hari Sabtu dan Minggu (Persami). Dalam persami ini diadakan acara yang merekatkan kebersamaan. Dalam acara ini dibuat kegiatan mempererat tali persudaraan, jalinan silaturahim antar sesama  IDI cabang. Atau antara IDI cabang dengan IDI wilayah. Dengan acara Persami ini silaturahim antara sesama teman sejawat dokter se Riau semakin erat.

RMC ini juga ditujukan untuk memupuk kepedulian terhadap masyarakat Riau. Dalam RMC ini, pada hari keduanya semua dokter yang menjadi peserta  tadi akan melakukan pengabdian kepada masyarakat suku terasing di wilayah kabupaten Siak. Tepatnya di desa Penyengat Kecamatan Sei Apit. Di desa Penyengat Sei Apit ini terdapat mayarakat suku terasing yang dinamakan Suku Anak Rawa. Jumlah penduduk di desa Penyengat ini sekitar 1.456 jiwa sedangkan jumlah Suku Anak Rawa sekitar 40%nya. Pekerjaan Suku Anak Rawa adalah petani dan nelayan. Di desa tetangganya yang berbatasan dengan Kabupaten Meranti juga ada suku terasing lainnya, mereka menyebut suku Akit. Masyarakat suku Akit ini disebutkan lebih banyak sebagai nelayan.

Pada hari Minggu, 11 Februari 2018, disinilah para dokter se-Riau melakukan pengabdian masyarakat dalam berbagai kegiatan seperti pengobatan massal dengan menurunkan full tim, maksud saya dengan berbagai macam dokter spesialis, seperti dokter  spesialis penyakit Dalam, dokter spesialis Paru, dokter Kulit, dokter THT, dokter Kandungan, dokter Anak, dan lainnya.  selain pengobatan ada juga kegiatan penyuluhan tentang dipteri, kemudian ada pemberian jamban sehat atau sumur Bor sebagai sumber air bersih.

Kegiatan RMC ini terbilang sangat sukses. Buktinya kegiatan tersebut sangat diapresisi oleh kepala daerah kabupaten Siak dan juga Gubernur Riau. Masyarakat suku terasing juga sangat berterima kasih dengan sentuhan pengobatan oleh dokter se-Riau ini. Mereka minta diadakan setiap tahun. karena kegiatan ini sangat menyentuh kesehatan masyarakat.

Disebabkan begitu suksesnya acara ini, di apresiasi oleh kepala daerah, di hadiri ratusan masyarakat maka Zul Asdi berpikiran akan menaikan derajat Riau Medical Camp ini menjadi Jambore Medical Indonesia. Ya sebuah Jambore Medical Indonesia bertaraf nasional dan ini mungkin yang pertama di Indonesia. Ya sebuah mimpi yang punya peluang untuk di perjuangkan.

Begitulah agaknya salah satu pokok pikirannya dalam memadukan rasa kebersamaan, kesejawatan dan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, terutama masyarakat suku terasing.

Dan tahun ini, 2022, setelah 4 tahun yang lalu, Medical Camp akan diadakan lagi di daerah wisata  Candi Muara Takus kampar, Riau. acara ini mungkin juga merupakan acara perpisahan dengan sang ketua akan mengakhiri masa jabatan keduanya sebagai ketua IDO wilayah Riau. 


Semoga sukses.

*Penulis adalah Koordinator Media, Medsos dan Document IDI Wilayah Riau periode 2019-2022

HYMNE IDI


 

MARS IDI


 

Ciptaan dr. Nazardi Oyong, Sp.A

Selasa, 25 Oktober 2022

IDI MENJADI RUMAH BESAR DOKTER DISELURUH INDONESIA

 IDI MENJADI RUMAH BESAR
DOKTER DISELURUH
INDONESIA

            Ikatan Dokter Indonesia (IDI) adalah Organiasasi Profesi yang semua bernaung di rumah besar IDI, IDI itu lahir tanggal 28 Oktober 1950, di Jakarta.

dr. Zul Asdi, Sp.B, M.Kes, MH
dr. Zul Asdi, Sp.B, M.Kes, MH & Istri
            Perjuangan dan nilai-nilai luhur dokter Indonesia itu sudah ada sejak dahulu, salah satu partisipasi organisasi yang ikut dalam kebangkitan bangsa yaitu budi utomo yang didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA, yang merupakan mahasiswa kedokteran dalam tokoh pergerakan nasional. Jadi Perjuangan itu sudah menjadi darah daging pada dokter Indonesia, berangkat dari nilai-nilai luhur, berjuang tanpa pamrih demi kepentingan bangsa dan negara, jiwa itu yang ditanamkan dari generasi ke generasi. Dokter Indonesia juga berjuang dan berusaha menyamakan kemampuan dirinya dengan dokter Belanda.

    Dokter Indonesia tidak hanya mengembangkan pelayanan kesehatan dalam iptek kedokteran tetapi juga menjadi tokoh-tokoh yang juga peduli kepada kepentingan bangsa dan ikut memberikan manfaat kepada bangsa dan negara dari semua sisi.

           Mahasiswa STOVIA dan dokter berperan dalam berbagai tenggat kerja bangsa. Sebut saja, kebangkitan bangsa pendirian partai politik pertama Indische Partij dan tokoh pendidikan nasional adalah bekas mahasiswa kedokteran STOVIA atau dokter lulusan STOVIA. 

                    

        Di dalam Rumah Besar IDI yang memiliki berbagai unsur yang ada memberi warna kepada Rumah Besar IDI itu sendiri, IDI yang sudah berusia 72 tahun hingga saat ini eksistensi keberadaannya masih dihargai dan dihormati segala pihak, perannya, dan harapan masyarakat yang besar kepada dokter Indonesia.

        Dalam Rumah Besar IDI itu ada bermacam-macam dokter, ada dokter yang menjadi pegawai negeri, pemerintahan, dokter swasta dan ada yang menjadi pimpinan dalam berbagai lembaga yang ada, semua itu terhubung dalam rumah besar IDI dan nilai-nilai luhur. Jadi jika dokter itu meraih prestasi yang membanggakan tentu juga akan membanggakan rumah besar IDI itu sendiri dan begitu juga sebaliknya jika dokter itu melakukan sebuah kesalahan maka itu akan berimbas kepada rumah besar IDI itu sendiri.

 Akan seperi apa rumah besar IDI itu kedepannya?

        Seperti apa kita (rumah besar IDI) akan diperlakukan oleh masyarakat itu tergantung kepada orang-orang yang ada pada rumah besar IDI itu sendiri, jika yang ada pada rumah besar IDI itu saling berhubungan dengan baik maka rumah besar itu akan memiliki peran dan fungsi yang baik bagi masyarakat dan tetap bermartabat dan dihargai oleh semua pihak.

      Dirumah besar IDI ada dokter-dokter senior dan guru-guru besar yang telah memberikan sumbangsihnya dalam pendidikan dan kesehatan yang harus kita berikan penghormatan selayaknya. Jika diperhatikan kegiatan-kegiatan IDI juga menghadirkan guru-guru besar itu, dan perhatian-perhatian kepada guru-guru besar kita perlu dilakukan misalnya semacam pertemuan terimakasih senior, yang sifatnya silaturahmi. Jadi bagaimana rumah besar itu melakukan sentuhan-sentuhan dan penghargaan-penghargaan agar dokter senior merasakan perhatian di dalam rumah besar IDI.

         

    Tidak hanya dokter senior yang sudah kompeten didalam rumah besar IDI itu juga terdapat dokter muda yang baru saja tamat yang tentu masih memiliki perjalanan yang panjang kedepannya, dan disitulah rumah besar IDI membantu memberikan akses biaya pendidikan lebih lanjut yang lebih murah, mengayomi dan mengajak untuk bersama-sama praktik disuatu instansi kesehatan, sehingga mereka itu merasa menjadi bagian dalam rumah besar itu dan mendapat berbagai informasi baru dari seior-senior yang melakukan pembelaan baik dalam ritme menjalani regulasi dan masalah hukum.

            Namun juga tentu nilai-nilai etika kedokteran dalam hubungan personal tetap harus diutamakan. didalam rumah besar IDI itu ada banyak dokter yang berjumlah hampir 200.000 dan bagaimana IDI bisa membantu pemerintah dalam mendistribusikan dokter Indonesia, dan juga membantu dokter-dokter Indonesia yang mau berjuang didaerah-daerah terpencil dan menghargainya dengan intensif yang lebih dari layak, dokter-dokter yang dikirim kedaerah tentu dokter yang sudah senior dan berpengalaman. Dokter-dokter yang terjun kedaerah-daerah terpencil sering terkendala dan terhambat dengan sarana prasarana, serta juga hambatan politik daerah.

            Dengan adanya rumah besar IDI itu kita bisa memperjuangkan nasib dokter yang terjun didaerah terpencil, bagaimana dokter Indonesia itu bisa peduli dengan masalah stunting, masalah tumbuh kembang anak, mendorong dokter-dokter memiliki kualitas tentu dengan pendidikan, harapan rumah besar IDI saat ini yaitu ingin pendidikan kedokteran yang terjangkau dan murah, jadi tidak hanya yang mampu ekonominya saja yang dapat menjadi dokter, tetapi anak-anak yang memiliki kecerdasan walau tidak mampu segi finansial ini juga bisa mengikuti pendidikan kedokteran. Itulah penyebab anak-anak yang mampu secara akademis tetapi tidak secara ekonomi tidak mendapat kesempatan, itu sama saja kita membunuh potensi-potensi bangsa.

            Indonesia kaya akan sumber daya alam yang indah dan kearifan lokal budaya, bagaimana dokter indonesia itu bisa menggali kearifan lokal dalam bidang kesehatan dan menjaga lingkungan hidup, kemudian ikut membantu mengapresiasi budaya-budaya yang ada di Indonesia dalam sebuah kegiatan bersama dan nasional, kegiatan-kegiatan rumah besar IDI yang sifatnya rekreasi dan silaturahmi, termasuk juga melakukan dorongan-dorongan untuk melakukan olahraga karena banyak sekali dokter-dokter yang membentuk komunitas motor, sepeda, tenis, golf, dsb, dan bagaimana kita tetap menjaga semangat itu. Serta dokter-dokter yang konsentrasi dengan bencana-bencana alam, dokter-dokter yang peduli dengan laut Indonesia.

            Rumah besar IDI menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan pemerintah tentunya dengan komunikasi yang baik terbentuk maka permasalahan bisa diselesaikan. komunikasi yang dibentuk dengan pemerintah, DPR/DPRD, Kemenkes, JKN dan semua pihak melalui rumah besar IDI.

            Tentu hubungan komunikasi rumah besar IDI yang ada di pusat, wilayah, perhimpunan daerah itu tercipta dengan baik dan informasi yang baik, forum komunikasi wilayah dan perhimpunan daerah itu untuk mendengarkan aspirasi dan informasi dari kawan-kawan dari cabang-cabang seluruh Indonesia, karena masukan dari kawan-kawan itu ternyata luar biasa membantu, rumah besar IDI itu harus digerakkan menjadi organisasi nusantara bukan upaya atau kegiatan sekolompok orang saja, maka IDI melibatkan mereka yang ada pada rumah besar IDI dan mendorong potensi-potensi yang ada, karena masih banyak permasalahan-permasalahan yang perlu dibicarakan dan didiskusikan bersama.

            Untuk dokter umum Indonesia yang setiap tahunnya tamat sekita 11.000 dokter itu adalah sesuatu hal yang besar bagi rumah besar IDI, kita akan konsentrasi pada bagaimana dokter umum itu dapat kompetensi tambahan sehingga peran dokter umum ini tidak hanya sebatas melayani pasien JKN saja, banyak bidang-bidang kesehatan yang membutuhkan peran serta dari dokter Indonesia tanpa harus menjadi spesialis, peningkatan kompetensi tambahan untuk dokter umum penting diperjuangkan. hal yang segera perlu di upayakan adalah kenaikan harga INA-CBG's dan harga kapitasi di FKTP. Peran ini ditingkat nasional dan internasional perlu diperkuat dan semakin elastis.

            Bagaimana Organisasi mengawal jasa profesi dokter - dokter?

            Jasa medis itu bagi seorang professional dokter sebetulnya tidak ada angkanya, karena profesi dokter ini sebagai seorang professional tentu tujuannya adalah menolong dan memberikan pelayanan kepada masyarakat atau personal. Bisa dari gratis yang kita lakukan sampai tak terhingga, namun memang ada kesepakatan angka-angka yang layak. Berbicara dengan berapa jasa dokter itu yang layak, ini bisa jadi pertimbangan sebenarnya. Tetapi yang kita perhatikan adalah bagaimana profesi bisa mengawal jasa medis sesuai dengan kelayakan hidup sebuah profesi dokter. Sehingga dokter itu benar-benar bisa konsentrasi untuk melayani pasien.

            Kalau kita lihat sekarang jasa di profesi lain itu ditentukan oleh organisasi profesi apa itu notaris, pengacara. IDI juga telah membuat jasa medis dokter itu namun pada waktu itu, ditawarkan kepada program kesehatan Indonesia memang ada ketidakcocokan antara jasa medis yang ditawarkan ini dengan apa yang berlaku sekarang. Kita tau kalau untuk pembayaran dokter di rumah sakit itu dimasukkan kedalam kelompok pembayaran BPJS kepada rumah sakit, jadi jasa dokter tidak terpisah, seharusnya jasa dokter ini dibayarkan terpisah dalam BPJS Kesehatan itu. Termasuk juga jasa medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

            Satu hal lagi yang penting adalah selama hampir 8 tahun JKN ini berjalan, harga INA-CBG's tidak berubah sementara situasi dan kondisi serta kebutuhan itu sudah naik semua. Sehingga organisasi meminta kepada pemerintah untuk disesuaikan harganya. Satu lagi INA-CBG's yang rendah itu membuat pelayanan jadi terhambat karena ada batasan melayani pasien. Jadi harapan kedepannya janganlah pemerintah dalam hal ini BPJS Kesehatan membatasi biasa kesehatan sebatas uang yang disediakan oleh INA-CBG's tadi. Karena banyak masyarakat yang mampu, perusahaan yang mampu, pemerintah daerah yang mampu ingin mendapatkan pelayanan dan mampu membayar. Itu sebenarnya hal yang normal saja, karena kalaupun mereka tidak membayar untuk menambah INA-CBG's ini mereka berobat keluar negeri, dan di luar negeri mereka mau saja membayar mahal. Nah pemerintah memang harus fokus untuk masyarakat yang tidak mampu, untuk yang mampu biarkan saja kalau mereka meminta pelayanan yang lebih dan obat-obat yang lebih baik, dia diperbolehkan untuk iur bayar. Itu bisa memberikan penghargaan untuk dokter dirumah sakit maupun klinik, nah ini harapannya kedepan seperti itu. 

            Kalau kita bandingkan jasa medis dokter di Indonesia itu memang rendah sekali, ya banyaklah semacam pernyataan-pernyataan paradoks. Sehingga dokter yang melayani pasien dan bekerja keras jangan ada keterbatasan dana sehingga pelayanan itu menjadi substandar atau kurang baik. Karena pada ujungnya yang dirugikan adalah masyarakat. Bagaimana kita bisa membandingkan harga profesi ini, tentu tidak dengan profesi lain tapi kita bisa membandingkan dengan harga barang, harga jasa yang ada sekarang.

Sejauh ini bagaimana pendapat dr. Zul terkait dengan dokter-dokter asing?

             Mungkin suatu saat nanti akan terwujud realisasi dokter asing masuk ke Indonesia dan dokter Indonesia juga keluar negeri. Namun kalau yang kami tangkap dari laporan teman-teman sejawat yang mengambil kursus tambahan diluar negeri, hasrat-hasrat dokter dari India, Vietnam, Malaysia, Thailand itu memang menunggu-nunggu waktu itu datang dan ingin praktik di Indonesia. Karena Indonesia itu adalah pasar yang besar bagi mereka. Negara dalam hal ini pemerintah seperti halnya produk-produk dalam negeri juga jasa dalam negeri tentu harus di kawal, artinya tentu harus memberikan kesempatan, potensi untuk mengembangkan kemampuan dan Iptek dokter Indonesia. Sehingga kita bisa mandiri di negeri sendiri.

                Kalau kita liat tidak kurang dokter Indonesia yang berpraktik diluar negeri dan menjadi konsultan di Universitas. Banyak juga warga negara asing yang menjadi dokter di Indonesia, ironisnya setelah praktik masyarakat kita malah berobat di luar negeri. Pemerintah harus mendukung IDI dalam memberikan kepercayaan artinya agar masyarakat bangga berobat di negara sendiri. Terbukti selama pandemi Covid-19 

dr. Zul Asdi, Sp.B, M.Kes, MH

masyarakat Indonesia itu tidak bisa keluar negeri dan setelah mereka mencoba untuk berobat di Indonesia ternyata pelayanan sama saja kata mereka. Ada dorongan yang besar dari beberapa negara untuk membawa rumah sakit di Indonesia dan membawa tenaga medisnya, hebatnya salah seorang gubernur itu menanyakan apa kelebihan anda dari pada kami? tapi ternyata proposal mereka itu tidak ada kelebihan yang dipunya. satu lagi harus ada regulasi yang cukup selektif untuk bisa berpraktik di Indonesia. Dokter kita untuk magang saja beberapa bulan di singapura itu syaratnya banyak bahkan bisa sampai satu tahun mengurusnya.

              Kalau kita bicara soal wisata medis yang sudah diselenggarakan oleh beberapa negara lain, itu terlihat sekali kalau peran pemerintahnya, peran serta dari kedinasannya. semuanya mensupport wisata medis tadi sehingga totalitas akhirnya biayanya murah. itu yang diharapkan peran serta pemerintah.

            Untuk iptek kedokteran, misal seperti robotic surgery oke aja tuh bagus, tetapi apakah nanti sistem pelayanan jasa kesehatan ini yang dibayar oleh BPJS kesehatan ini akan mampu membayar iptek kedokteran itu? untuk membayar operasi usus buntu saja masih kurang, itu yang penting. Sehingga masyarakan bisa merasakan pelayanan dengan teknologi yang tinggi. Makanya saya bilang pemerintah lebih baik berkonsentrasi dengan masyarakat yang tidak mampu. Masih banyak perusahaan mampu, orang mampu, pemda mampu untuk membayar.

Sekarang distribusi dokter kan tidak merata, bagaimana pendapat dokter?

                Itulah kenyataannya, dokter Indonesia tuh sudah ada hampir 200.000 lalu ada permasalahannya distribusi tidak merata. Sebenarnya itu berkaitan dengan "ada gula ada semut", banyak juga dokter itu yang mau mengabdi di daerah terpencil. kalau soal pengabdian dokter Indonesia jangan diragukan, tetapi mereka itu harus di dukung oleh sarana dan prasarana artinya rumah sakitnya telah siap, peralatannya ada, listrik sudah ada, perumahan, transportasi. Untuk orang-orang seperti itu sering kali dibikin janji oleh pemerintah daerah akan dibayar cukup layak lalu akan di perhatikan dan IDI harus mampu berkomunikasi baik dengan masyarakat dekat dan semua pihak terkait di pemerintahan dalam berbagai tingkatan.


Featured Post

PUASA OBAT STRES

dr. Jondri Akmal, MARS => Dokter dan Praktisi Kesehatan Era sekarang identik dengan zaman kemajuan. Zaman kini sama dengn era tekhnol...