Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 25 Oktober 2022

IDI MENJADI RUMAH BESAR DOKTER DISELURUH INDONESIA

 IDI MENJADI RUMAH BESAR
DOKTER DISELURUH
INDONESIA

            Ikatan Dokter Indonesia (IDI) adalah Organiasasi Profesi yang semua bernaung di rumah besar IDI, IDI itu lahir tanggal 28 Oktober 1950, di Jakarta.

dr. Zul Asdi, Sp.B, M.Kes, MH
dr. Zul Asdi, Sp.B, M.Kes, MH & Istri
            Perjuangan dan nilai-nilai luhur dokter Indonesia itu sudah ada sejak dahulu, salah satu partisipasi organisasi yang ikut dalam kebangkitan bangsa yaitu budi utomo yang didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA, yang merupakan mahasiswa kedokteran dalam tokoh pergerakan nasional. Jadi Perjuangan itu sudah menjadi darah daging pada dokter Indonesia, berangkat dari nilai-nilai luhur, berjuang tanpa pamrih demi kepentingan bangsa dan negara, jiwa itu yang ditanamkan dari generasi ke generasi. Dokter Indonesia juga berjuang dan berusaha menyamakan kemampuan dirinya dengan dokter Belanda.

    Dokter Indonesia tidak hanya mengembangkan pelayanan kesehatan dalam iptek kedokteran tetapi juga menjadi tokoh-tokoh yang juga peduli kepada kepentingan bangsa dan ikut memberikan manfaat kepada bangsa dan negara dari semua sisi.

           Mahasiswa STOVIA dan dokter berperan dalam berbagai tenggat kerja bangsa. Sebut saja, kebangkitan bangsa pendirian partai politik pertama Indische Partij dan tokoh pendidikan nasional adalah bekas mahasiswa kedokteran STOVIA atau dokter lulusan STOVIA. 

                    

        Di dalam Rumah Besar IDI yang memiliki berbagai unsur yang ada memberi warna kepada Rumah Besar IDI itu sendiri, IDI yang sudah berusia 72 tahun hingga saat ini eksistensi keberadaannya masih dihargai dan dihormati segala pihak, perannya, dan harapan masyarakat yang besar kepada dokter Indonesia.

        Dalam Rumah Besar IDI itu ada bermacam-macam dokter, ada dokter yang menjadi pegawai negeri, pemerintahan, dokter swasta dan ada yang menjadi pimpinan dalam berbagai lembaga yang ada, semua itu terhubung dalam rumah besar IDI dan nilai-nilai luhur. Jadi jika dokter itu meraih prestasi yang membanggakan tentu juga akan membanggakan rumah besar IDI itu sendiri dan begitu juga sebaliknya jika dokter itu melakukan sebuah kesalahan maka itu akan berimbas kepada rumah besar IDI itu sendiri.

 Akan seperi apa rumah besar IDI itu kedepannya?

        Seperti apa kita (rumah besar IDI) akan diperlakukan oleh masyarakat itu tergantung kepada orang-orang yang ada pada rumah besar IDI itu sendiri, jika yang ada pada rumah besar IDI itu saling berhubungan dengan baik maka rumah besar itu akan memiliki peran dan fungsi yang baik bagi masyarakat dan tetap bermartabat dan dihargai oleh semua pihak.

      Dirumah besar IDI ada dokter-dokter senior dan guru-guru besar yang telah memberikan sumbangsihnya dalam pendidikan dan kesehatan yang harus kita berikan penghormatan selayaknya. Jika diperhatikan kegiatan-kegiatan IDI juga menghadirkan guru-guru besar itu, dan perhatian-perhatian kepada guru-guru besar kita perlu dilakukan misalnya semacam pertemuan terimakasih senior, yang sifatnya silaturahmi. Jadi bagaimana rumah besar itu melakukan sentuhan-sentuhan dan penghargaan-penghargaan agar dokter senior merasakan perhatian di dalam rumah besar IDI.

         

    Tidak hanya dokter senior yang sudah kompeten didalam rumah besar IDI itu juga terdapat dokter muda yang baru saja tamat yang tentu masih memiliki perjalanan yang panjang kedepannya, dan disitulah rumah besar IDI membantu memberikan akses biaya pendidikan lebih lanjut yang lebih murah, mengayomi dan mengajak untuk bersama-sama praktik disuatu instansi kesehatan, sehingga mereka itu merasa menjadi bagian dalam rumah besar itu dan mendapat berbagai informasi baru dari seior-senior yang melakukan pembelaan baik dalam ritme menjalani regulasi dan masalah hukum.

            Namun juga tentu nilai-nilai etika kedokteran dalam hubungan personal tetap harus diutamakan. didalam rumah besar IDI itu ada banyak dokter yang berjumlah hampir 200.000 dan bagaimana IDI bisa membantu pemerintah dalam mendistribusikan dokter Indonesia, dan juga membantu dokter-dokter Indonesia yang mau berjuang didaerah-daerah terpencil dan menghargainya dengan intensif yang lebih dari layak, dokter-dokter yang dikirim kedaerah tentu dokter yang sudah senior dan berpengalaman. Dokter-dokter yang terjun kedaerah-daerah terpencil sering terkendala dan terhambat dengan sarana prasarana, serta juga hambatan politik daerah.

            Dengan adanya rumah besar IDI itu kita bisa memperjuangkan nasib dokter yang terjun didaerah terpencil, bagaimana dokter Indonesia itu bisa peduli dengan masalah stunting, masalah tumbuh kembang anak, mendorong dokter-dokter memiliki kualitas tentu dengan pendidikan, harapan rumah besar IDI saat ini yaitu ingin pendidikan kedokteran yang terjangkau dan murah, jadi tidak hanya yang mampu ekonominya saja yang dapat menjadi dokter, tetapi anak-anak yang memiliki kecerdasan walau tidak mampu segi finansial ini juga bisa mengikuti pendidikan kedokteran. Itulah penyebab anak-anak yang mampu secara akademis tetapi tidak secara ekonomi tidak mendapat kesempatan, itu sama saja kita membunuh potensi-potensi bangsa.

            Indonesia kaya akan sumber daya alam yang indah dan kearifan lokal budaya, bagaimana dokter indonesia itu bisa menggali kearifan lokal dalam bidang kesehatan dan menjaga lingkungan hidup, kemudian ikut membantu mengapresiasi budaya-budaya yang ada di Indonesia dalam sebuah kegiatan bersama dan nasional, kegiatan-kegiatan rumah besar IDI yang sifatnya rekreasi dan silaturahmi, termasuk juga melakukan dorongan-dorongan untuk melakukan olahraga karena banyak sekali dokter-dokter yang membentuk komunitas motor, sepeda, tenis, golf, dsb, dan bagaimana kita tetap menjaga semangat itu. Serta dokter-dokter yang konsentrasi dengan bencana-bencana alam, dokter-dokter yang peduli dengan laut Indonesia.

            Rumah besar IDI menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan pemerintah tentunya dengan komunikasi yang baik terbentuk maka permasalahan bisa diselesaikan. komunikasi yang dibentuk dengan pemerintah, DPR/DPRD, Kemenkes, JKN dan semua pihak melalui rumah besar IDI.

            Tentu hubungan komunikasi rumah besar IDI yang ada di pusat, wilayah, perhimpunan daerah itu tercipta dengan baik dan informasi yang baik, forum komunikasi wilayah dan perhimpunan daerah itu untuk mendengarkan aspirasi dan informasi dari kawan-kawan dari cabang-cabang seluruh Indonesia, karena masukan dari kawan-kawan itu ternyata luar biasa membantu, rumah besar IDI itu harus digerakkan menjadi organisasi nusantara bukan upaya atau kegiatan sekolompok orang saja, maka IDI melibatkan mereka yang ada pada rumah besar IDI dan mendorong potensi-potensi yang ada, karena masih banyak permasalahan-permasalahan yang perlu dibicarakan dan didiskusikan bersama.

            Untuk dokter umum Indonesia yang setiap tahunnya tamat sekita 11.000 dokter itu adalah sesuatu hal yang besar bagi rumah besar IDI, kita akan konsentrasi pada bagaimana dokter umum itu dapat kompetensi tambahan sehingga peran dokter umum ini tidak hanya sebatas melayani pasien JKN saja, banyak bidang-bidang kesehatan yang membutuhkan peran serta dari dokter Indonesia tanpa harus menjadi spesialis, peningkatan kompetensi tambahan untuk dokter umum penting diperjuangkan. hal yang segera perlu di upayakan adalah kenaikan harga INA-CBG's dan harga kapitasi di FKTP. Peran ini ditingkat nasional dan internasional perlu diperkuat dan semakin elastis.

            Bagaimana Organisasi mengawal jasa profesi dokter - dokter?

            Jasa medis itu bagi seorang professional dokter sebetulnya tidak ada angkanya, karena profesi dokter ini sebagai seorang professional tentu tujuannya adalah menolong dan memberikan pelayanan kepada masyarakat atau personal. Bisa dari gratis yang kita lakukan sampai tak terhingga, namun memang ada kesepakatan angka-angka yang layak. Berbicara dengan berapa jasa dokter itu yang layak, ini bisa jadi pertimbangan sebenarnya. Tetapi yang kita perhatikan adalah bagaimana profesi bisa mengawal jasa medis sesuai dengan kelayakan hidup sebuah profesi dokter. Sehingga dokter itu benar-benar bisa konsentrasi untuk melayani pasien.

            Kalau kita lihat sekarang jasa di profesi lain itu ditentukan oleh organisasi profesi apa itu notaris, pengacara. IDI juga telah membuat jasa medis dokter itu namun pada waktu itu, ditawarkan kepada program kesehatan Indonesia memang ada ketidakcocokan antara jasa medis yang ditawarkan ini dengan apa yang berlaku sekarang. Kita tau kalau untuk pembayaran dokter di rumah sakit itu dimasukkan kedalam kelompok pembayaran BPJS kepada rumah sakit, jadi jasa dokter tidak terpisah, seharusnya jasa dokter ini dibayarkan terpisah dalam BPJS Kesehatan itu. Termasuk juga jasa medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

            Satu hal lagi yang penting adalah selama hampir 8 tahun JKN ini berjalan, harga INA-CBG's tidak berubah sementara situasi dan kondisi serta kebutuhan itu sudah naik semua. Sehingga organisasi meminta kepada pemerintah untuk disesuaikan harganya. Satu lagi INA-CBG's yang rendah itu membuat pelayanan jadi terhambat karena ada batasan melayani pasien. Jadi harapan kedepannya janganlah pemerintah dalam hal ini BPJS Kesehatan membatasi biasa kesehatan sebatas uang yang disediakan oleh INA-CBG's tadi. Karena banyak masyarakat yang mampu, perusahaan yang mampu, pemerintah daerah yang mampu ingin mendapatkan pelayanan dan mampu membayar. Itu sebenarnya hal yang normal saja, karena kalaupun mereka tidak membayar untuk menambah INA-CBG's ini mereka berobat keluar negeri, dan di luar negeri mereka mau saja membayar mahal. Nah pemerintah memang harus fokus untuk masyarakat yang tidak mampu, untuk yang mampu biarkan saja kalau mereka meminta pelayanan yang lebih dan obat-obat yang lebih baik, dia diperbolehkan untuk iur bayar. Itu bisa memberikan penghargaan untuk dokter dirumah sakit maupun klinik, nah ini harapannya kedepan seperti itu. 

            Kalau kita bandingkan jasa medis dokter di Indonesia itu memang rendah sekali, ya banyaklah semacam pernyataan-pernyataan paradoks. Sehingga dokter yang melayani pasien dan bekerja keras jangan ada keterbatasan dana sehingga pelayanan itu menjadi substandar atau kurang baik. Karena pada ujungnya yang dirugikan adalah masyarakat. Bagaimana kita bisa membandingkan harga profesi ini, tentu tidak dengan profesi lain tapi kita bisa membandingkan dengan harga barang, harga jasa yang ada sekarang.

Sejauh ini bagaimana pendapat dr. Zul terkait dengan dokter-dokter asing?

             Mungkin suatu saat nanti akan terwujud realisasi dokter asing masuk ke Indonesia dan dokter Indonesia juga keluar negeri. Namun kalau yang kami tangkap dari laporan teman-teman sejawat yang mengambil kursus tambahan diluar negeri, hasrat-hasrat dokter dari India, Vietnam, Malaysia, Thailand itu memang menunggu-nunggu waktu itu datang dan ingin praktik di Indonesia. Karena Indonesia itu adalah pasar yang besar bagi mereka. Negara dalam hal ini pemerintah seperti halnya produk-produk dalam negeri juga jasa dalam negeri tentu harus di kawal, artinya tentu harus memberikan kesempatan, potensi untuk mengembangkan kemampuan dan Iptek dokter Indonesia. Sehingga kita bisa mandiri di negeri sendiri.

                Kalau kita liat tidak kurang dokter Indonesia yang berpraktik diluar negeri dan menjadi konsultan di Universitas. Banyak juga warga negara asing yang menjadi dokter di Indonesia, ironisnya setelah praktik masyarakat kita malah berobat di luar negeri. Pemerintah harus mendukung IDI dalam memberikan kepercayaan artinya agar masyarakat bangga berobat di negara sendiri. Terbukti selama pandemi Covid-19 

dr. Zul Asdi, Sp.B, M.Kes, MH

masyarakat Indonesia itu tidak bisa keluar negeri dan setelah mereka mencoba untuk berobat di Indonesia ternyata pelayanan sama saja kata mereka. Ada dorongan yang besar dari beberapa negara untuk membawa rumah sakit di Indonesia dan membawa tenaga medisnya, hebatnya salah seorang gubernur itu menanyakan apa kelebihan anda dari pada kami? tapi ternyata proposal mereka itu tidak ada kelebihan yang dipunya. satu lagi harus ada regulasi yang cukup selektif untuk bisa berpraktik di Indonesia. Dokter kita untuk magang saja beberapa bulan di singapura itu syaratnya banyak bahkan bisa sampai satu tahun mengurusnya.

              Kalau kita bicara soal wisata medis yang sudah diselenggarakan oleh beberapa negara lain, itu terlihat sekali kalau peran pemerintahnya, peran serta dari kedinasannya. semuanya mensupport wisata medis tadi sehingga totalitas akhirnya biayanya murah. itu yang diharapkan peran serta pemerintah.

            Untuk iptek kedokteran, misal seperti robotic surgery oke aja tuh bagus, tetapi apakah nanti sistem pelayanan jasa kesehatan ini yang dibayar oleh BPJS kesehatan ini akan mampu membayar iptek kedokteran itu? untuk membayar operasi usus buntu saja masih kurang, itu yang penting. Sehingga masyarakan bisa merasakan pelayanan dengan teknologi yang tinggi. Makanya saya bilang pemerintah lebih baik berkonsentrasi dengan masyarakat yang tidak mampu. Masih banyak perusahaan mampu, orang mampu, pemda mampu untuk membayar.

Sekarang distribusi dokter kan tidak merata, bagaimana pendapat dokter?

                Itulah kenyataannya, dokter Indonesia tuh sudah ada hampir 200.000 lalu ada permasalahannya distribusi tidak merata. Sebenarnya itu berkaitan dengan "ada gula ada semut", banyak juga dokter itu yang mau mengabdi di daerah terpencil. kalau soal pengabdian dokter Indonesia jangan diragukan, tetapi mereka itu harus di dukung oleh sarana dan prasarana artinya rumah sakitnya telah siap, peralatannya ada, listrik sudah ada, perumahan, transportasi. Untuk orang-orang seperti itu sering kali dibikin janji oleh pemerintah daerah akan dibayar cukup layak lalu akan di perhatikan dan IDI harus mampu berkomunikasi baik dengan masyarakat dekat dan semua pihak terkait di pemerintahan dalam berbagai tingkatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

PUASA OBAT STRES

dr. Jondri Akmal, MARS => Dokter dan Praktisi Kesehatan Era sekarang identik dengan zaman kemajuan. Zaman kini sama dengn era tekhnol...